Hidup itu kadang absurd. Tapi ya udah, dijalanin aja kayak Rian.

Kak Mei dan Hari-hari Tanpa Menyerah

Ada beberapa orang yang hadir dalam hidup kita bukan untuk selamanya, tapi cukup dalam waktu tertentu saja. Meninggalkan bekas yang gak akan pernah bisa dihapus. Salah satunya adalah Kak Meirisa.

Dulu kami sering banget main bareng. Kadang ramean, kadang cuma bertiga. Nongkrong sampai larut malam, ngopi, mabar Mobile Legend, atau mendadak jalan ke pantai tengah malam (camping ala-ala). Dia selalu heboh kalau ketawa, dan kalau cerita ga habis-habis, adaaaaa aja yang diceritain. Aku suka cara dia cerita, heboh, tanpa koma, kayak drama yang episodenya panjang dan lagi seru-serunya. Hahaha

Sama kayak aku, dia suka Blackpink, idolanya Jennie Kim. Kami juga sama-sama orang Banjar, jadi kami nyambung aja kalau ngobrol, cepat akrabnya. Rasanya kayak punya saudara yang gak lahir dari ibu yang sama, tapi jiwanya klik sejak awal ketemu.

Tapi di balik semua itu, Kak Mei sedang menjalani perjuangan berat, gagal ginjal. Dua kali seminggu dia harus cuci darah. Aku pernah nemenin dia opname, dan itu salah satu momen yang bikin aku benar-benar terdiam. Rasanya campur aduk. sedih, khawatir, tapi juga kagum. Karena walau tubuhnya melemah, semangatnya tetap terang. Kadang terlintas dipikiranku kalau dia ga lama lagi di dunia ini. Ya umur ga ada yang tau, atau bisa jadi aku yang duluan pergi.

Pernah suatu hari dia cerita, waktu lagi motoran sendirian, dia hampir pingsan. Badannya drop tiba-tiba dan pandangnya putih. Dia berhenti di pinggir jalan, nahan diri biar gak tumbang. Dan di momen genting itu, ada bapak penjual buah dan istrinya yang nolongin kak mei. Bapak itu dengan baik hati nganterin dia pulang sampai ke kosannya. Baik banget ya bapak itu.

Sebenarnya kondisinya sangat memprihatinkan. Tangan kirinya seperti monster karena pembuluh darahnya membesar bekas jarum selang cuci darah. Harus jaga-jaga makan dan minum biar keadaannya ga memburuk. Kadang dia ngerasa badannya bengkak dan pusing. Tapi dia sangat aktif dan kuat, seperti tidak sakit. Bahkan kami pernah jalan kaki seharian keliling singapore. Pergi hiking ke hutan walau sempat ngos-ngosan dan digotong di perjalanan. Tapi pas sampai titik lokasi malah sehat, dan pulangnya kuat, wkwkwk.

Kak Mei sosok teman yang baik dan asik. Dia bukan tipe cewek yang menye-menye dan feminim. Kadang sikapnya bisa ngeselin, tapi dia tetap orang yang baik. Dia pernah jemput aku malam-malam dan pergi ke jembatan barelang. Disana kami cerita dan curhat tentang sesuatu. Kalau diingat-ingat lucu juga sih. haha
oh iya, dulu sebelum ada genk kelelawar, aku keluyurannya sama kak Mei and friends.

Sekarang, Kak Mei udah gak di sini. Dia balik ke kampung halamannya di Kalimantan. Ya disini juga dia kasian sih sendirian ga ada keluarga. Tapi kenangannya masih sering main di kepala. Di lagu-lagu Blackpink yang tiba-tiba muncul di shuffle playlist, di ML yang masih nongol sesekali, di story IG/WA, atau saat malam sepi dan aku ngelewatin pantai yang dulu sering kami datangi. Kadang aku senyum sendiri, kangen juga ya rasanya.

Dia mungkin gak tahu, tapi dari dia aku belajar satu hal penting:
Bahwa kekuatan bukan soal terlihat hebat di luar, tapi tentang tetap memilih bertahan meski dunia sedang berat.

Terima kasih, Kak Mei.
Untuk semua tawa, semua cerita, dan semua kekuatan yang diam-diam kamu bagi.
Kamu bukan cuma teman. Kamu adalah pengingat bahwa hidup layak dijalani, walaupun kadang menyakitkan.

Tinggalkan komentar