Kadang aku duduk diam dan bertanya dalam hati, Sebenarnya untuk apa aku hidup?
Bukan karena aku menyerah, tapi karena perjalanan ini berat. Banyak tanya, banyak luka, banyak juga pelajaran. Ada hari-hari di mana aku merasa penuh semangat. Tapi ada juga hari-hari di mana aku merasa kosong, bingung, dan lelah. Kadang sampe meneteskan air mata juga. Sering kali, tanpa sadar, kita hidup seperti sedang mengejar standar orang lain. Melihat mereka yang sudah berhasil, lalu merasa tertinggal. Lalu bertanya Kapan ya aku bisa seperti mereka? Padahal, jalan kita nggak pernah sama.
Dulu, waktu kecil, aku punya baaanyak cita-cita. Pengen jadi arsitek, dokter, Karyawan kantoran, dan lain-lain. Pokoknya yang keren-keren seperti imajinasi anak-anak pada umumnya.
Aku juga masih ingat, sejak SD aku suka banget ngegambar pemandangan. Sering juga niru denah rumah dari gambar kerjaan bapak. Beliau suka buat gambar-gambar rumah dan denah rumah gitu, buat kerjaannya. Dan tiap kali serius menggambar, lidahnya suka menjulur keluar. Aku masih ingat ekspresi itu lucu, fokus, dan entah kenapa sangat membekas. Aku memperhatikan geliat mengerjakannya dengan sangat detail dan rapi. Mungkin dari situ aku punya rasa tertarik sama dunia kreatif.
Ibuku juga penjahit. Dan dari kecil, aku udah bisa menjahit baju ala-ala, karena sering lihat ibu kerja dengan mesin jahit tuanya yang berisik tapi penuh kenangan. Aku tumbuh di antara kertas gambar, suara mesin jahit, dan tangan-tangan yang terampil. Sepertinya aku memang punya jiwa kreatif sejak kecil, cuma tidak tersalurkan saja.
Seiring waktu, arah hidup berubah. Mimpi-mimpi besar itu perlahan memudar, terganti oleh realita. Jalan karier ditentukan oleh keadaan, bukan lagi oleh mimpi. Aku juga ingat iklan zaman dulu yang lucu tapi mengena: “Kalau aku udah gede, aku pengen jadi boss, pengen jadi eksmud. Kerjanya di gedung tinggi, ngomong bahasa Inggris, tiap Jumat pulang kerja nongkrong sama teman-teman“
Dulu itu terdengar keren banget. Tapi sekarang, aku cuma bisa senyum-senyum sendiri tiap ingat. Karena kenyataannya hidup nggak segampang dan sekeren itu.
Sekarang aku nggak lagi punya keinginan besar ini-itu. Aku cuma ingin hidup tenang. Damai. Sehat. Dan bahagia.
Kadang aku lihat kehidupan teman-temanku. Ada yang lebih “jauh” dari aku, ada juga yang masih tertatih. Tapi yang bikin hati terasa hangat adalah saat aku bertemu orang-orang yang tetap respect, apapun perbedaan hidup kita. Yang nggak menilai berdasarkan pencapaian, status, atau penghasilan. Yang melihat manusia sebagai manusia.
Aku nggak tahu pasti tujuan hidupku sekarang. Tapi satu hal yang aku tahu: aku masih berjalan. Mungkin bukan untuk jadi seseorang yang hebat, tapi cukup jadi seseorang yang jujur menjalani hidupnya.
Aku suka hal-hal yang bikin hati aku bahagia. Tenang. Dan kalau bisa, bikin orang lain bahagia juga. Nggak harus sesuatu yang fancy, tapi cukup dari hal-hal sederhana. Dan mungkin ini yang orang lain ga tau tentang diriku. Mereka hanya lihat dari luarnya. “Enak ya jadi Rian, Kerjanya apa? kok jalan-jalan terus?”, padahal itu adalah caraku menikmati hidupku. Aku ga sibuk ngejar karir, cari muka dengan atasan, atau gila harta sampai menghalalkan segala cara. Aku ga berbagi kesedihanku di IG story, yang aku share hanya yang happynya saja.
Mungkin wishlistku sekarang nggak lagi soal karier atau jabatan. Tapi tentang experience. Aku ingin menjelajah sejauh-jauhnya. Melihat hal-hal yang indah. Menikmati pemandangan yang menakjubkan. Tertawa bersama teman-teman. Aku ingin hidup mandiri, cukup untuk diriku, dan nggak menyusahkan siapa-siapa.
Karena sekarang, bagiku…
Tujuan hidup bukan lagi soal pencapaian. Tapi tentang perasaan bahagia, tenang, dan merasa cukup.
Dan itu… sudah lebih dari cukup.
Tinggalkan komentar