Ada satu fase dalam hidup yang nggak pernah kebayang akan terjadi secepat ini. Resign dari tempat kerja yang selama ini jadi bagian besar dari hidupku. Tempat yang telah menafkahiku selama ini.
Aku pernah bekerja di salah satu perusahaan swasta milik Jepang di Batam. Bisa dibilang, cukup lama aku menghabiskan hari-hari di sana. Dari awal masuk, habis kontrak, lalu dipanggil lagi untuk bergabung, hingga akhirnya dipermanenkan. Perjalanan yang panjang dan penuh cerita. Awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Lingkungan kerja yang hangat, rekan-rekan yang seru dan lucu, bikin beban kerja jadi terasa lebih ringan. Kadang memang stres, tapi suasana kebersamaan itu yang bikin tetap kuat.
Banyak hal-hal indah yang sudah aku laluin bersama mereka. Ricy yang selalu ngejokes, uni sita dengan alzeimernya, pak cik yang heboh, kak fika si dangdut lawak, dan teman-teman lain yang beragam tingkah lakunya. Biasanya kami ngumpul di jam break, cofebreak, dan jam-jam curi waktu kalau ga ada kerjaan. Atau sekedar chatingan di PC sesama rekan kerja ngomongin bos yang toxic, ngomongin kerjaan, atau bisa juga bahas mau pesan makan siang apa.
Tapi seiring berjalannya waktu, semuanya mulai berubah. Perusahaan mulai goyah, orderan turun, dan situasi mulai tidak menentu. Sampai akhirnya muncul kebijakan pensiun dini. Satu per satu, teman-temanku mulai pergi. Setiap orang mengambil keputusan terbaik untuk hidupnya, dan kantor yang dulu ramai penuh canda tawa, mulai terasa sepi. Yang tersisa hanyalah tumpukan pekerjaan dan beberapa rekan yang… yaa, bikin pengen tabok aja saking ngeselinnya. Wkwkwk, canda….
Aku mulai merasa capek. Bukan hanya fisik, tapi juga batin. Lingkungan kerja yang dulu jadi “rumah kedua” kini terasa asing. Aku butuh napas. Butuh ruang untuk berpikir. Butuh waktu untuk kembali menemukan diriku sendiri. Apakah ini karena aku dengerin lagu Hindia yang judulnya “Berdansalah, karir ini tak ada artinya”?. Hahahaha
Akhirnya aku mengajukan pensiun dini. Tapi prosesnya nggak instan. Butuh empat bulan sampai pengajuanku akhirnya disetujui. Empat bulan yang penuh dengan rasa campur aduk, antara nggak sabar, ragu, sampai takut. Sempat ada drama juga dengan pengajuanku, bikin suasanya tambah ga nyaman. Tapi aku tahu, ini langkah yang harus diambil.
Sampai tiba hari terakhirku di tempat kerja. Hari itu, entah kenapa semua terasa berat sekaligus melegakan. Ada kenangan yang ingin kupertahankan, tapi juga ada luka yang ingin kulepaskan. Rasanya seperti menutup bab panjang dari buku hidupku, dengan segala suka dukanya. Kemudian mempersiapkan untuk membuka lembaran baru di next season kehidupanku.
Sekarang, aku belum bisa bilang aku sudah “sukses” di jalan baru ini. Tapi aku punya rencana. Ada hal besar yang sedang aku susun pelan-pelan. Mungkin belum terlihat dari luar, tapi di dalam hati aku tahu aku sedang bergerak menuju sesuatu yang aku impikan sejak lama. Kata orang kita harus impikan sesuatu yang indah dan baik. So, seandainya mimpi itu ga kesampaian, gantinya pasti yang lebih baik. Yakin aja sih kuncinya ya, hihihi.
Aku memilih untuk jalanin hari demi hari, tanpa terlalu banyak membocorkan arahku. Karena beberapa hal memang lebih indah kalau dipersiapkan dalam diam. Yang pasti, aku nggak menyesal dengan keputusan untuk resign. Melepas sesuatu yang familiar memang menakutkan, tapi lebih menakutkan lagi kalau terus bertahan di tempat yang membuatku merasa hilang. Untuk sekarang, aku sedang berproses. Merangkai langkah, memperkuat niat, dan pelan-pelan membangun pijakan baru. Semangat!!!
Tinggalkan komentar