Aku kenal Nanda sejak kelas 2 SMP. Waktu itu sekolah bikin kelas “unggulan” yang isinya anak-anak peringkat teratas, dan aku masuk salah satunya. Di sanalah aku pertama kali ketemu Nanda. Tapi awalnya kami nggak dekat, dia dengan genknya, aku dengan teman sebangkuku. Hanya sebatas teman sekelas yang saling tahu nama.
Setelah lulus SMP, Rumahku kebakaran. Yang tersisa hanya baju yang melekat di badan. Keluargaku harus mulai lagi dari nol. Berat? Banget. Tapi hidup harus terus jalan. Nanda dan teman-teman sekelas juga datang dan memberi bantuan dari sekolah. Masih teringat dikepala, aku melihat wajah mereka dengan berlinangan air mata.
Singkat cerita, aku melanjutkan sekolah ke SMA, dan ternyata Nanda juga masuk di sekolah yang sama denganku. Karena kami pernah satu kelas sebelumnya, kami mulai dekat di kelas yang baru. Waktu ospek, dia minjemin baju olahraga SMPnya ke aku. Kedengerannya sepele, tapi buatku itu besar. Saat semua yang kupunya hilang, dia hadir bantu tanpa banyak tanya. Dari situ aku sadar kalau dia teman yang tulus membantu.
Lalu muncul satu nama lagi: Syauqi. Kami kenal waktu pembagian kelas di SMA, waktu ospek. Nggak butuh waktu lama buat langsung nyatu dalam satu genk. Genk kami waktu itu berlima. Syauqi ini anaknya pintar, akademik banget. Tapi… kadang ngeselin. Sejak dulu kami sering nggak cocok, berantem kecil, terus baikan. Dan entah kenapa, siklus itu masih kejadian sampai sekarang. Berantem kecil, sampe berantem janga panjang juga pernah, wkwkwk. Tapi ya begitu, kadang orang yang paling sering bikin emosi, justru orang yang paling ngerti.
Dari lima orang di genk kami dulu, sekarang cuma tiga yang masih sering ketemu dan tetap dekat: aku, Nanda, dan Syauqi. Meski hidup membawa kami ke arah yang beda-beda, entah kenapa kami bisa nyambung lagi… jauh dari kampung.
Ga disangka, Syauqi pindah kerja ke Batam, nyusul aku. Nggak lama setelah itu, Nanda juga pindah ke Bintan. Sekarang kami sering ketemuan, minimal sebulan sekali. Kadang di Batam, kadang di Bintan, atau Tanjung Pinang. Nggak harus acara khusus, kadang cuma makan bareng, nostalgia, ngobrol ngalor-ngidul, atau ngetawain hal-hal receh yang nggak penting-penting amat. Tapi selalu menyenangkan.
Lucu ya? Dulu kami cuma anak-anak kampung yang main ke jembatan Getek dan pergi ke rumahsakit malem-malem lewat kamar mayat buat uji nyali. Sekarang kami masih main juga, tapi lintas pulau 😆. Isi obrolan tetap receh. Ketawanya tetap sama.
Kadang aku mikir… ini hal langka. Punya teman dari zaman sekolah, yang masih hadir di hidup kita sekarang, ketika dunia udah berubah segila ini. Aku bersyukur banget masih punya Nanda dan Syauqi. Masing-masing punya karakter beda, kadang saling nabrak, kadang bikin kesel, tapi selalu bisa balik jadi teman.
Kadang aku mikir, kita lucu ya. Diumur yang sudah tidak muda ini. Disaat teman-teman udah pada nikah, punya anak, sibuk berumahtangga. Kita masih sering main bareng bertiga, liburan, haha hihi kayak ga punya beban hidup. Sebenarnya ketar ketir juga ya sama kehidupan, tapi di enjoy-enjoyin aja, Nikmatin masanya. Ha ha ha ha
Aku ga tau sampai kapan kita masih bertahan berteman seperti ini. Terima kasih ya, kalian. Karena masih ada. Karena ngerti aku, bahkan kalau aku nggak bilang apa-apa. Karena masih mau temenan, meski udah lewat banyak hal, musibah, drama kecil, dan perubahan hidup yang nggak pernah berhenti.
Semoga kita tetap bisa temenan sampai tua. Sampai ubanan bareng. Sampai ngomel bareng karena sakit pinggang, tapi masih ketawa karena hal-hal receh.
Tinggalkan komentar