Hidup itu kadang absurd. Tapi ya udah, dijalanin aja kayak Rian.

Menjauh Sementara

Nggak semua hal harus dipaksakan saat hati sedang lelah.
Kadang dalam pertemanan, yang bikin capek bukan soal waktu atau tenaga. Tapi soal emosi yang terkuras habis-habisan.

Aku pernah atau bahkan sering ketemu orang-orang yang bawa energi berat. Ya kadang ada aja kan orang yang kalau ketemu kita, rasanya capek banget berhadapan dengan dia. Bukan karena mereka jahat, tapi karena sikap mereka sering bikin lelah sendiri. Ada yang sensitif banget, sampai hal kecil bisa jadi masalah besar. Ada juga yang gampang ngambek, terus tiba-tiba ngilang, diem, nggak ngajak ngomong. Terus, ada juga yang suka nyalahin orang lain padahal dia juga bagian dari masalah itu sendiri. Semua itu bikin aku mikir dua kali setiap mau ngobrol atau nongkrong bareng.

Rasanya capek bukan karena ribut, tapi karena harus terus-terusan nahan diri supaya nggak ribut. Makanya, aku belajar satu hal: kalau mulai kerasa nggak nyaman, mulai muncul tanda-tanda bentrok (wah ini mulai ngajak ribut nih) aku milih untuk jaga jarak untuk sementara waktu. Bukan karena aku nggak peduli atau bukan karena aku pengen lari dari masalah. Tapi karena aku tahu, kalau dipaksa terus bareng saat hati lagi lelah, ujung-ujungnya cuma jadi ledakan. Dan aku nggak mau sampai kayak gitu. Males ngadepin drama-drama, mending menghindar biar hidup tetap tenang dan waras. haha

Aku bukan orang yang hobi ribut. Kalau masih bisa dihindarin, aku pilih tenang dulu. Diam. Menjauh. Ngasih ruang buat diriku sendiri, dan buat mereka juga. Biar masing-masing bisa tenang, bisa mikir jernih.

Kadang aku juga ngerasa, “Kok aku sih yang harus ngerti? Kenapa aku yang terus ngalah?” Tapi ya… mungkin ini caraku menjaga hubungan. Dengan nggak maksa semuanya harus langsung selesai saat hati belum siap.

Dan saat semuanya udah tenang, kalau memang masih bisa dibicarakan, aku lebih pilih ngomong baik-baik. Tapi kalau orangnya tipikal yang suka main jadi korban atau susah diajak ngobrol sehat, ya… aku tetap jaga jarak. Karena nggak semua hubungan harus dilawan habis-habisan. Kadang yang paling sehat adalah tahu kapan mundur, dan kapan diam.

Dulu waktu belum setenang ini, belum mikir sesehat ini, aku pernah ngeladeni orang yang ngajak ribut. Hasilnya meledak dan malah makin ruwet. Saling menyalahkan, keluar kata-kata yang ga mengenakan, atau saling menjatuhkan. Hubungan pun jadi susah untuk diperbaiki kembali. Ya kalau dia hanya temen biasa sih ga apa ya. Yang jadi masalah besar itu kalau ribut sama temen deket. Pasti kalian pernah ngalamin hal yang sama kan. Ga enak kan???

Menjaga jarak bukan berarti berhenti peduli.
Kadang itu satu-satunya cara buat tetap sayang, tanpa saling menyakiti.
Aku nggak pernah berharap semua orang bisa paham caraku menjaga diri. Tapi aku tahu satu hal: aku juga butuh tenang, aku juga butuh ruang.

Nggak semua hal harus dihadapi dengan frontal. Kadang, bentuk sayang yang paling tulus adalah tahu kapan harus berhenti bicara… dan mulai diam sebentar. Bukan buat menyerah, tapi buat menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.

Karena pada akhirnya, aku juga manusia yang bisa lelah, bisa marah, dan butuh jeda.

Dan kalau kamu juga pernah ngerasa kayak aku… tenang, kamu nggak sendiri. Kadang jaga jarak itu bukan berarti kamu jahat, tapi kamu sedang berusaha jadi baik dengan cara yang paling damai.

Tinggalkan komentar