Hidup itu kadang absurd. Tapi ya udah, dijalanin aja kayak Rian.

Lost in Sumbar

Dulu aku dan temenku (bertiga) tinggal di Batam. Masa-masa itu penuh dengan cerita random, obrolan tengah malam, jalan sore ke pantai, nongkrong, atau hanya sekedar makan siang bareng di restaurant seafood yang enak. Tapi waktu berjalan. Yang satu pindah kerja dan stay di Medan, satu lagi di Pekanbaru menjelang pindah ke swiss, dan aku lagi di kampung halaman untuk sementara waktu.

Sampai suatu hari… ide gila itu muncul: “Ketemuan yuk!”
Dan entah gimana, semuanya cocok. Kami janjian ketemu di Pekanbaru, dan dari situ memulai perjalanan dadakan ke Sumatera Barat. Kami pun berangkat: liburan ke Sumatera Barat. Nama trip-nya? “Lost in Sumbar.” Karena kami tahu, yang kami cari bukan cuma tempat, tapi kebersamaan dan seru-seruan. Hahaha

Temenku yang stay di Pekanbaru aslinya orang padang, ya tentunya jadi tour guide kami, karena dia yang tau kemana saja tempat yang harus kita kunjungi. Dan itu adalah keputusan terbaik. Dia yang atur rute, rekomendasi makanan, sampai ngasih tahu sejarah tiap tempat yang kami datangi. Kami nginap dua malam di Bukittinggi, lalu semalam di Lembah Harau.

Diperjalanan dari kejauhan, kami bisa lihat Gunung Merapi, berdiri megah dengan puncaknya tertutup awan. Seperti lukisan hidup. Kami lihat hamparan sawah yang hijau, terus jalan ke rumah adat, dan aku sempat pakai baju adat Minang. Rasanya kayak masuk ke lembar sejarah. Kami juga masuk ke Lobang Jepang, tempat bersejarah yang bikin merinding, lalu lanjut ke Ngarai Sianok yang tenang dan memukau. Kami juga turun kebawah ngarai yang disana ada sungai yang cantik. Airnya jernih dan dingin. seger banget….

Lalu… Lembah Harau.
Tempat yang bikin kami semua ngerasa amazed.
Tebing-tebing tinggi berdiri gagah, pemandangannya indah banget sampai rasanya kayak nggak nyata. Tepat di belakang penginapan yang kami tempati, ada air terjun yang ga terlalu gede, tapi tinggi banget. Rasanya tenang banget berada disitu. Denger suara angin yang berhembus, menerpa dedaunan pepohonan, dan suara air terjun.
Udara di sana dingin banget. Serius, sampai kami bercanda, “Ini air mandi apa air kulkas sih?”
Akhirnya? kami kadang mandi kadang ga mandi. Wkwkwk.

Oh iya, waktu itu kami liburan pada saat bulan puasa. Jadi kebayang kan gimana kondisinya, haha. Ditengah perjalanan ngerasa lapar dan haus. Ya bisa sih ditahan, cuma lemes aja. wkwkwkwk
Terus sorenya cari makan buat berbuka puasa. Berburu takjil di sumbar seru banget. Banyak beragam kue, minuman dan masakan. Setelah berbuka kami masih berburu makanan enak, biasalah kalau temenku yang satu itu balik ke sumbar, banyak pengennya, pengen makan ini pengen makan itu.

Moment-moment bersama itu yang bikin perjalanan jadi berarti.
Ketawa bareng, nyasar bareng, tidur bareng di penginapan yang seadanya, ngobrol sambil ngemil, nyanyi bareng di dalam mobil sambil lihat view lembah harau, bahkan cuma diam bareng sambil lihat kabut turun.
Di tengah semua itu, ada rasa yang muncul:
“Ternyata, meski waktu dan jarak memisahkan, kita masih bisa pulang ke momen seperti dulu.”

See you next time guys!

Tinggalkan komentar