Hidup itu kadang absurd. Tapi ya udah, dijalanin aja kayak Rian.

Dalam Hubungan Harus Setara

Dalam setiap hubungan, baik itu hubungan asmara, pertemanan, atau bahkan relasi keluarga, yang paling penting bukan seberapa sering kalian bertemu, seberapa lama kalian kenal, atau seberapa besar pengorbanan yang pernah dibuat. Yang paling penting adalah keseimbangan. Harus ada rasa saling. Harus setara ya guys ya.

Kalau kita bicara tentang pasangan, maka rasa cinta pun harus tumbuh dari dua arah. Nggak bisa satu pihak mencintai setengah mati, sementara yang satu lagi cuma numpang nyaman. Nggak bisa satu orang selalu yang minta dimengerti, sementara satunya terus-terusan mengalah dan memendam. Rasa cinta yang nggak seimbang hanya akan menumbuhkan luka di ujungnya. Karena pada akhirnya, yang terlalu banyak memberi pun bisa lelah.

Begitu juga dalam pertemanan. Teman itu seharusnya saling melengkapi, saling menguatkan. Ada kalanya kamu butuh tempat cerita, ada kalanya kamu harus jadi pendengar. Take and give. Kalau kamu terus jadi yang dominan, yang paling effort, yang paling peduli, lama-lama kamu juga akan merasa capek sendirian dalam hubungan itu.

Kadang aku sendiri suka heran. Kok bisa ya, ada teman yang selalu minta dibayarin dulu setiap kali makan. Bukan sekali dua kali, tapi hampir setiap waktu. Atau kalau naik motor, selalu mau dibonceng, padahal kita sama-sama cowok dan sama-sama punya kendaraan. Dan kalau diajak pergi, lelet banget. Harus ditungguin, harus terus diingetin. Awalnya aku pikir, “Ya udahlah, mungkin emang dia orangnya gitu.” Tapi lama-lama, ya capek juga. Rasanya kayak aku terus yang mikir, aku terus yang ngatur, aku terus yang bawa beban. Padahal hubungan yang sehat nggak gitu caranya. Nggak bisa cuma satu pihak yang berjuang menjaga semuanya tetap nyaman. Karena kenyamanan itu seharusnya tanggung jawab bersama, bukan beban satu orang.

Aku memang berteman dengan banyak orang. Tapi aku lebih memilih banyak menghabiskan waktuku dengan teman-teman yang menurutku setara. Yang sama-sama kerja, sama-sama capek, yang punya inisiatif, yang saling melengkapi satu sama lain. Teman yang tahu kapan harus mendengar, kapan harus menguatkan. Yang nggak nunggu diminta, tapi sadar dan peka. Yang kalau diajak ngobrol tuh nyambung, yang kalau kita ketemu, rasanya kayak isi ulang energi. Ya maklum aja ga sih, semakin dewasa tenaga dan emosi kita terbatas.

Bukan berarti kamu nggak boleh jadi orang yang lemah. Kita semua manusia, ada masanya kita capek, banyak masalah, dan cuma pengen didengerin. Itu wajar! Tapi ya move on juga dong. Orang-orang di sekitarmu juga ingin melihat kamu tumbuh, jadi versi yang kuat, dan bisa diandalkan. Karena ketemu teman itu seharusnya buat recharge energy, bukan malah menguras energy.

Hubungan yang setara itu bukan berarti harus selalu 50:50 ya, karena dalam kenyataannya mungkin ada saat-saat di mana aku sedang lebih kuat dan yang kamu lebih butuh dukungan, dan ada saat-saat jadi sebaliknya.

“Ketika hubungan membuatmu lelah, mungkin bukan kamu yang salah, tapi keseimbangannya yang hilang.”

Tinggalkan komentar