Hidup itu kadang absurd. Tapi ya udah, dijalanin aja kayak Rian.

Diusir yang Tak Terlupakan

Waktu itu aku datang ke Batam dengan satu harapan: mulai hidup baru. Aku ingin mandiri, bekerja, dan bisa bantu keluarga. Seperti banyak orang yang pertama kali merantau, aku belum punya teman, belum paham daerah, dan belum punya cukup uang untuk tinggal sendiri. Karena itu, aku menumpang sementara di rumah salah satu saudara. Kupikir, selama aku sopan, cepat dapat kerja, dan nggak bikin repot, semuanya akan baik-baik saja.

Hari-hari awal kuhabiskan untuk keliling cari kerja menggunakan motor yang dipinjem. Tapi nasib belum berpihak. Sudah lebih dari dua minggu, belum ada satu pun tempat yang menerima. Perlahan, suasana rumah mulai berubah. Aku mulai merasa tidak diinginkan. Sindiran-sindiran mulai muncul, bukan secara langsung, tapi lewat status WhatsApp. seperti “pakai aja terus! bla bla bla”, padahal itu sindiran buat aku yang pakai motornya. Dan masih banyak lagi.

Waktu itu, aku cuma bisa diam. Aku tahu maksudnya. Tapi aku nggak tahu harus bagaimana. Aku pun sadar, mungkin sejak awal aku salah: memaksakan diri merantau sebelum benar-benar siap. Dan dia mungkin sejak awal tidak menginginkan aku tinggal bersamanya, hanya karena rasa ga enakan saja dia terpaksa terima aku. Mungkin aku hanya dianggap beban dan males-malesan cari kerja, padahal cari kerja kan ga segampang itu. Aku juga lagi berjuang, dan butuh ruang untuk napas. Tapi bukannya dapet pengertian, malah disalahpahami.

Puncaknya terjadi saat aku membawa seorang teman ke depan rumah. Kami baru saja pulang dari cari kerja, duduk sebentar istirahat karena cuaca juga panas banget, aku masak mie instan, kami makan, setelah selesai piringnya aku cuci, lalu pergi lagi. Tapi itu membuatnya marah besar. Mungkin dia merasa aku kelewatan. Aku ga izin bawa teman kerumah, karena bukan muhrimnya, dan suaminya sedang tidak dirumah. Tak lama setelah itu, adiknya menyampaikan padaku bahwa aku harus pindah.

Waktu itu, aku takut dan bingung. Kota ini masih asing. Uangku tinggal sedikit. Aku merasa seperti dibuang di tengah ketidakpastian. Kemudian adiknya sedikit mengerti keadaanku. Dia tahu aku bingung, dan sebenarnya nggak tega melihat aku seperti itu. Akhirnya dia membantuku cari kos, menemaniku beli perlengkapan yang aku butuhkan buat kos sendiri. Situasinya memang sudah tak sehat lagi. Aku harus pergi. Meskipun berat, aku tahu aku memang harus mulai sendiri. Dan akhirnya, aku pindah ke kos kecil. Seadanya.

Aku merasa prihatin dengan diriku sendiri waktu itu. Aku bingung harus bagaimana. Namun pelan-pelan setelah kujalani, aku bisa. Dan itu adalah kali pertama aku kos sendiri. Awal mula aku ngerasa kesepian, apa-apa sendiri, kadang bingung mau ngapain, tapi asik juga kok. hahaha

Dan entah bagaimana, beberapa hari setelah aku ngekos, aku mendapat panggilan kerja. Rasanya seperti semesta akhirnya menjawab doaku tapi menunggu aku berani berdiri dulu. Rasanya cepat sekali hal baik setelah kejadian itu. Aku dapat kerja, sampai aku jadi karyawan permanent disana. Kemudian aku dapat teman-teman baru yang baik. Mereka ngajak aku tinggal bareng dan pindah dari kos kecil itu. Masih ingat waktu itu mereka bantu aku pindahan. wkwkwk

Hubunganku dengan saudara itu masih belum baik hingga sekarang. Pernah aku mencoba menjalin komunikasi lagi, tapi rasanya tetap kaku. Sulit bagiku untuk pura-pura baik, atau hanya sekedar basa basi. Mungkin karena luka itu masih ada. Tapi kini aku bisa melihat lebih dalam. Mungkin karena dia sedang hamil besar saat itu. Mungkin juga lelah secara mental. Mungkin sejak awal dia tak enak menolak, lalu akhirnya semuanya jadi beban. Aku jadi pengingat dari kekacauan itu.

Merantau itu bukan sekadar pindah tempat tinggal. Tapi juga pindah dari zona nyaman, menghadapi ketidakpastian, dan menjalani proses pendewasaan yang seringkali menyakitkan. Kalau kamu sekarang sedang ada di titik terendah, aku paham. Aku pernah di sana.

Ingat, kamu tidak sendirian. Dan yang penting: kamu tidak gagal hanya karena butuh waktu lebih lama. Kadang, kamu harus jatuh dulu agar tahu caranya bangkit. Terima kasih untuk diriku sendiri, yang waktu itu nggak tumbang.

Dan untuk kamu yang sedang merasa kecil, tak berguna, atau tidak diinginkan…
percayalah, kamu tetap pantas. Pantas diberi ruang untuk bertumbuh, pantas untuk diperjuangkan, dan pantas untuk hidup tenang.

Tinggalkan komentar