Dulu, aku pernah kerja bareng seorang senior…
Cewek, galak, & cerewet.
Matanya bisa melotot kalau lagi marah, dan sayangnya, meja dia persis di sebelah aku. Hari-hari serasa uji nyali bagiku.
Setiap hari, aku kerja di bawah tekanan yang bukan cuma soal dokumen eksport dan deadline shipment, tapi juga tekanan emosi:
“Hari ini aku salah lagi ga ya? Dia bakal ngomel ga ya?”
Itu jadi semacam pertanyaan harian yang bikin cemas dari pagi.
Waktu itu aku jadi clerknya. Tugas utamaku bantuin dia handle shipping eksport, dokumen, cek barang ke store, dan segala macam hal teknis yang kadang dia tinggal terima beres. Tapi kalau ada salah sedikit, entah typo di dokumen, atau format kurang lengkap, formulanya meleset, yang disorot aku. Yang disemprot aku. Yang dimelototin… ya aku juga.
Satu kejadian yang paling aku ingat:
Ada kesalahan dalam dokumen ekspor, dan dia ngamuk. Bener-bener ngomel, suaranya naik, matanya melotot kayak habis lihat dosa besar, dan aku cuma bisa duduk kaku sambil nahan malu karena rekan-rekan kerja lain juga ngelirik. Tapi lucunya, semua orang di kantor kayak udah biasa. Mereka tahu karakter dia memang begitu: cerewet, perfeksionis, meledak-ledak. Kadang aku mikir, “Ini kantor atau medan perang sih?”
Meski begitu, harus aku akui, dia banyak ngajarin aku.
Dia teliti, kerja cepat, dan terbiasa menangani hal-hal besar. Aku belajar banyak dari cara dia menyusun dokumen, mengejar deadline, dan menghadapi tekanan. Sayangnya, cara dia menyampaikan itu yang kadang bikin trauma ringan. Padahal bisa kok ngomong baik-baik, kasih tahu dengan tenang. Tapi ya… mungkin memang bukan tipe dia. Dan aku juga saat itu belum sekuat sekarang.
Lama-lama, karena terbiasa, aku jadi lebih tahan banting.
Aku mulai paham polanya. Mulai bisa prediksi moodnya. Sampai akhirnya, datang momen penting itu.
Waktu dia mau nyalahin aku soal dokumen yang salah, aku udah nggak gentar lagi. Aku ingat betul, bukan aku yang buat dokumen yang dia maksud. Jadi aku bilang dengan tenang, “Itu kan Kakak yang buat.”
Dan dia… diam. Ga ada marah-marah dan bantahan.
Dan saat itu aku tahu: aku udah nggak takut lagi.
Bukan karena pengen ngelawan, tapi karena aku udah cukup paham siapa dia, dan siapa diriku sendiri.
Setelah itu, semuanya mulai berubah. Aku kerja lebih santai. Lebih percaya diri. Udah nggak overthinking tiap mau submit dokumen. Dan aku pun mulai bisa mengambil keputusan sendiri, lebih cepat dan lebih yakin. Tekanan yang dulu bikin stres, sekarang justru jadi pijakan untuk naik level.
Sekarang, dia udah resign. Kami nggak pernah komunikasi lagi. Tapi saat aku lihat ke belakang, aku nggak cuma ingat emosinya. Aku juga ingat pelajarannya. Kadang, orang yang paling menyebalkan sekalipun bisa jadi guru paling penting dalam hidup kita. Mereka datang dengan caranya yang keras, galak, bahkan menyakitkan. Tapi ternyata, di situlah kita belajar jadi kuat. Jadi tegas. Jadi siap.
Dan mungkin, tanpa sadar, mereka juga mengajarkan satu hal:
Bahwa di balik galak yang membara, bisa jadi ada hati yang sebenarnya sedang berusaha… untuk tetap bertahan.
Tinggalkan komentar