Buatku, bergaul itu bukan cuma soal keluar rumah, nongkrong, atau cari hiburan. Bergaul adalah proses belajar tentang hidup, tentang manusia, dan tentang diriku sendiri. Tentu saja, bukan berarti semua pergaulan itu baik. Tapi bukan juga berarti semua yang dianggap “dilarang” itu pasti buruk. Kita tetap perlu tahu batas. Tapi kita juga harus berani keluar dari pola pikir yang terlalu sempit.
Kadang aku mikir, pemikiran orang-orang zaman dulu atau yang sering kita sebut “kulot” perlu kita pertanyakan lagi. Mereka mungkin berpikir, anak baik itu: yang gak pernah keluar malam, yang nilai akademiknya bagus, yang rajin ibadah dan patuh, dan yang gak banyak nongkrong.
Tapi dunia udah berubah. Anak baik sekarang bukan dilihat dari jam pulangnya. Bukan dari ranking di kelas. Bukan dari seberapa jarang dia keluar rumah.
Banyak pelajaran penting yang gak akan kita temukan di buku, sekolah, atau YouTube. Pelajaran itu datang dari obrolan tengah malam, dari tawa lepas yang diselingi curhat dalam, dari orang-orang dengan gaya hidup berbeda yang membagikan cerita mereka tanpa merasa lebih baik atau lebih buruk dari kita.
Aku sering keluar malam bertemu teman-temanku. Kadang sampai larut malam. Kadang cuma duduk ngobrol. Kadang ada yang minum-minum, ya tau lah ya. Kadang suasana rame, ada yang ribut, bahkan cewek juga kadang ikutan ngerokok. Ada yang pakai hijab, ada yang pakai pakaian terbuka seksi. Tapi bagiku, itu semua bukan masalah. Karena kami gak datang untuk menghakimi dan menilai satu sama lain. Kami datang sebagai manusia yang ingin melepas lelah setelah bekerja. Yang ingin tertawa, saling cerita, saling menguatkan. Malam-malam itu bukan soal “gaya hidup bebas.” Itu satu-satunya waktu kami bisa bernapas, setelah seharian sibuk dengan tanggung jawab masing-masing.
Kami gak nongkrong buat ngegosip atau ngejudge gaya hidup orang (sesekali pernah juga sih, wkwkwk). Kami datang sebagai manusia yang butuh istirahat dari tekanan hidup, yang ingin dimengerti, yang cuma pengen jadi diri sendiri tanpa perlu pakai topeng.
Kita terlalu sering menilai orang dari casingnya. Dari pakaian, jam pulang, gaya bicara. Padahal value seseorang gak selalu keliatan di luar. Kadang, justru mereka yang dianggap “nakal” itulah yang punya empati, toleransi, dan keberanian untuk jadi diri sendiri. Aku belajar banyak dari mereka. Bukan karena mereka sempurna. Tapi karena mereka nyata.
Karena mereka pernah jatuh, salah, dan tetap jalan. Karena mereka gak pura-pura jadi orang lain demi kelihatan “baik”. Atau pura-pura terlihat baik biar disukai orang lain.
Dan buat kamu yang merasa hidupnya lebih suci, lebih tertib, lebih “taat” itu bagus. Tapi bukan berarti kamu lebih baik dari yang lain. Karena kebaikan gak punya seragam. Sayangnya, di luar sana, masih banyak yang menilai orang dari luarnya. Huhhhh…..
Yang terlihat baik, belum tentu benar.
Yang terlihat liar, belum tentu buruk.
Dan aku sudah gak ingin repot membuktikan apa-apa lagi ke siapa pun.
Sekarang, aku udah gak peduli temanku senakal apa, sejauh gaya hidupnya seperti apa. Selama dia memperlakukan sesama manusia dengan baik, ga menyakiti orang lain, dan tahu batasan perbuatannya, aku hargai dia. Karena menurutku, itu yang lebih penting daripada sekadar terlihat baik di mata orang.
Gaya hidup itu pilihan. Dan aku percaya, setiap orang berhak menjalani hidupnya sesuai apa yang dia yakini, selama gak merugikan orang lain. Kita bukan hakim. Kita gak punya hak buat ngatur-ngatur atau menilai hidup orang lain, apalagi hanya berdasarkan pakaian, jam pulang, atau tempat nongkrong. Aku gak takut kalau orang mencapku sebagai anak dugem, sering keluyuran, atau gak baik. Kita terlalu sering menilai orang dari casing-nya. Dari pakaian, jam pulang, gaya bicara.
Padahal value seseorang gak selalu keliatan di luar. Kadang, justru mereka yang dianggap “nakal” itulah yang punya empati, toleransi, dan keberanian untuk jadi diri sendiri.
Aku belajar banyak dari mereka.
Bukan karena mereka sempurna. Tapi karena mereka nyata.
Karena mereka pernah jatuh, salah, dan tetap jalan. Karena mereka gak pura-pura jadi orang lain demi kelihatan “baik.” Kita terlalu sering menilai orang dari casingnya. Dari pakaian, jam pulang, gaya bicara.
Padahal value seseorang gak selalu keliatan di luar. Kadang, justru mereka yang dianggap “nakal” itulah yang punya empati, toleransi, dan keberanian untuk jadi diri sendiri.
Aku gak hidup untuk membuktikan siapa diriku. Karena pada waktunya, mereka akan mengerti sendiri dengan lifestyle hidupku. Aku hidup untuk menjadi versi terbaik dari diriku, meskipun itu berarti berjalan di jalan yang orang lain anggap aneh atau salah.
Pergilah cari kebebasan. Bertemulah dengan banyak orang. Dengarkan cerita-cerita mereka. Ada banyak pelajaran dan hal-hal indah di luar sana.
Dan kamu juga akan tahu:
Hidup ini luas, penuh warna, dan terlalu berharga untuk dijalani dengan pikiran sempit dan penilaian dangkal.
Tinggalkan komentar