Sejak lama aku punya satu wishlist tiap kali membayangkan liburan ke Bali, aku harus ke Kelingking Beach. Tebing yang bentuknya seperti dinosaurus itu sudah terlalu sering muncul di Instagram dan selalu berhasil bikin aku jatuh cinta berkali-kali. Jadi ketika benar-benar ada kesempatan ke Bali Januari 2025 lalu, aku langsung bilang, “Pokoknya kita ke Kelingking Beach.
Kami pergi berempat. Pagi-pagi sekali kami sudah bangun di Hotel Santika Kuta, masih ngantuk tapi semangatnya sudah meledak-ledak. Kami langsung berangkat menuju Pelabuhan Sanur. Dan tentu saja, petualangan absurd dimulai sebelum masuk kapal. Karena hanya mengandalkan Google Maps, kami diarahkan parkir di sebuah lokasi yang entah di mana, lalu berjalan kaki lewat gang sempit yang ternyata bukan akses utama pelabuhan. Pas sudah capek jalan dan akhirnya sampai pelabuhan, kami baru sadar ada area parkir resmi yang luas banget tepat di lokasi pelabuhan. Salah jalan dong, gengs. Tapi ya sudahlah yang penting sampai. Liburan harus tetap ceria!
Kami beli tiket, menunggu sebentar, lalu naik kapal. Begitu kapal berangkat, aku sudah senyum-senyum sendiri. Panas matahari terik banget, hampir semua penumpang bule semua. Liburan itu sah-sah saja sedikit menderita karena lapisan sunscreen juga masih bertahan, wkwkwk. It’s Okay!
Setibanya di Pelabuhan Nusa Penida, kami langsung sewa dua motor. Tapi sebelum benar-benar memulai eksplorasi, kami harus makan dulu. Entah itu sarapan atau makan siang, aku pun tidak yakin karena sudah kesiangan. Yang penting perut terisi. Setelah itu, perjalanan panjang pun dimulai. Matahari memang menyengat, tapi banyak pepohonan menaungi di beberapa sisi jalan. Pemandangan rumah-rumah penduduk dan pura-pura khas Bali juga ikut menemani. Ada anjing-anjing yang berkeliaran santai dan aku senang sekali mereka tidak ngejar, padahal dalam hari takut juga. Di jalanan itu, aku merasa seperti sedang roadtrip versi pendek tapi penuh kebahagiaan.
Setelah hampir satu jam, akhirnya kami sampai di destinasi impianku: Kelingking Beach.
Di titik itu aku cuma bisa bilang, “WAAAAAH!” Lautnya biru cerah, anginnya kencang, tebingnya megah seperti dinosaurus yang tertidur. Rame banget bule, tapi tetap terasa luar biasa. Kami nekat turun meniti tangga yang curam dan bikin dengkul bergetar. Baru sepertiga jalan, kami sudah menyerah. Nafas tinggal setengah, keringet seperti abis lari marathon, kaki gemetaran, dan otak sudah berkata, “Cukup sudah perjalanan ini.” Jadi kami foto-foto dulu sambil mengatur napas, lalu memutuskan untuk naik kembali. Dan ternyata… naiknya jauh lebih menyiksa daripada turunnya. Tapi justru itu yang bikin ngakak kalau diingat-ingat hari ini.
Setelah semua tenaga terasa terkuras di Kelingking Beach, kami melanjutkan perjalanan ke Broken Beach. Jalannya… rusak parah. Motor dan penumpang bergetar-getar melewatinya. Kalau motor bisa protes, mungkin dia sudah berteriak. Tapi begitu sampai, semua rasa sakit pantat dan tangan yang pegal langsung sirna.
Broken Beach menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Tebing melingkar dengan lubang besar di tengahnya membuat laut seolah masuk diam-diam dari balik batu. Tidak seramai Kelingking Beach, jadi kami bisa menikmati suasana lebih tenang sambil mengambil foto-foto kerennya. Kami tidak bisa lama-lama karena harus mengejar kapal terakhir. Kalau sampai ketinggalan ferry, bisa tamat riwayat itinerary kami hari itu. Btw itu hari terakhir kami di bali, soalnya besoknya harus flight balik ke Singapore.
Di kapal menuju Sanur, Bali, aku duduk di kursi dengan perasaan campur aduk. Capek banget. Ngantuk juga. Tubuh lengket penuh keringat dan sunscreen. Tapi hati… penuh sekali. Seru banget hari itu hingga tidak terasa sudah berakhir. Kami pulang membawa ratusan foto, kulit yang sedikit lebih gelap, dan cerita yang akan selalu kami kenang.
Nusa Penida, kamu cantik banget. Aku pasti akan kembali.
Tinggalkan komentar